Monday, March 4, 2013

Surat Cinta Sakit

Kondisi badan yang sedang bermasalah atau biasa yang disebut dengan sakit merupakan kondisi yang sangat mengganggu dan bahkan menyebalkan. Ditambah lagi ketika kita berada jauh dari keluarga asli kita. Kenapa saya katakan asli karena saya sedang berada di rantauan dan hanya ada keluarga yang sebetulnya bukan keluarga beneran tapi sudah saya anggap sebagai keluarga sendiri. Selain itu, perhatian dari seseorang yang dekat dengan kita yang bisa disebut pacar sedikit banyak telah membantu saya dalam melewati sakit di rantau ini.

Sakit yang harusnya menyebalkan menjadi sedikit lebih indah ketika ada orang-orang yang memperhatikan kita. Bukan hanya memperhatikan tapi juga merawat dengan rasa cinta. Untuk pertama kalinya aku mendapatkan sakit yang lebih merepotkan dan merisaukan dibanding waktu-waktu sebelumya. Namun, dia ada dan hampir selalu ada di sampingku saat aku dalam kondisi seperti itu. Mungkin gara-gara ini di rantauan rasanya menjadi lain karena dia yang selalu memperhatikan dan mengkhawatirkan aku. Dia yang membelikanku makanan, obat ini itu, membawakanku apa yang aku butuhkan. Sekilas itu seperti perawat, dan terkadang hal itu membuatku terganggu karena dia yang sangat baik. Hal yang mengganggu bukan karena aku yang tidak suka diperlakukan seperti itu, melainkan perasaanku yang merasa tidak enak karena merepotkan banyak orang terutama dia.

Berkali-kali aku berpikir, dan cintalah yang menjadi jawabannya. Rasa iba, rasa tidak ingin menyakiti, dan rasa berbagi itulah yang disebabkan oleh cinta. Namun, aku yang emosional hampir selalu tak bisa megendalikan emosiku sendiri. Disaat seperti itu, aku yang ceria bisa dengan mudah menjadi kesal dan kemudian ngomel-ngomel sendiri. Dia yang sabar dan memang baik hati selalu mencoba bersabar dan menerimaku. Sikap itu mungkin yang membuat kita bertahan. Namun, mengapa aku menjadi seperti ini? Aku merasa menjadi orang yang sangat kolokan ketika dekat dengannya, menjadi orang yang sangat menyebalkan ketika moodku sedang tidak baik dan lagi-lagi ketika bersamanya. Ini tak adil bukan? Seolah-olah dia sangat baik dan aku jahat sekali.

Aku berpikir ulang berpikir ulang kembali, bahwa inilah yang namanya hubungan dimana harus ada yang saling mengisi, mengerti, dan menghormati. Mengisi kehampaan yang ada sehingga menjadi lebih hidup, mengerti keadaan yang sedang dihadapi dan dirasakan, serta menghormati pendapat ataupun hal-hal pribadinya. Aku yang begini banyak belajar darinya tentang hubungan yang melebihi teman ini. Aku belajar tentang makna kejujuran dan keterbukaan. Aku belajar tentang bagaimana menerima orang lain yang kebudayaannya berbeda. Pun aku belajar bagaimana menjadi wanita yang menghormati dirinya sendiri.

Dari sakit ini aku mendapatkan dan menyadari banyak hal. Meskipun sakit ini menyebalkan seperti yang aku katakan sebelumnya, tapi ini menjadikanku lebih bersyukur atas kasih sayang yang telah Allah beri padku melalui saudara-saudaraku yang ada di rantauan ini termasuk dia. Beribu-ribu ucapan terimakasih pun tak lupa aku sampaikan padanya, Mohammad Randy Pratama. Juga permohonan maaf atas sikapku yang super meyebalkan ketika kondisi seperti ini.

No comments:

Post a Comment