Kisah ini dimulai karena suatu film, Perahu Kertas. Film yang membua kisah ini terjadi lagi, cerita dimana kami berkonflik lagi. Ini terjadi karena yaaa karena emosi ku sendiri, aku yang (ehem) masih labil. Dan itu terjadi karena kondisi pula yang kurang mendukung, macet lah, jalan di Jakarta yang susah buat muter lah, dll. Definitely I hate Jakarta at the time! -_-
Anyway, sebenernya ini adalah hal negatif dari diri aku. Aku yang susah buat ngungkapin perasaan secara langsung dan terang-terangan karena aku harus mikir dulu sebelom aku ngomong. Aku juga ga mau kalo aku ngomong dan isinya cuma omelan doang yang bikin semuanya tambah keruh, dan hasilnya kita sama-sama DIEM pas tadi. Ngerasa bersalah juga sih, disaat aku yg kesel dan diem, dia yang bingung. Di sisi lain, pas dia balik jadi kesel gara-gara aku yang diem dan aku yang mencoba buat ga kesel malah jadi dia yang diem sediem-diemnya. Tapi emang sikap aku juga yang ternyata salah yang mana pada saat itu aku kurang peka sama keadaan terutama dia. Alhasil terus-terusan dah kita diem dan itu ternyata memperburuk keadaan.
Hal itu semua ga bakal terjadi kalo aku ga kaya gitu (Red:Diem). Mungkin ini udah jadi kebiasaan dari didikan keluarga yang dimana kalo ada kekesalan atau apapun itu jarang buat diungkapkan secara kata-kata, termasuk ucapan yg membahagiakan. Dan hal itu secara ga langsung nempel di bawah alam sadar aku. Buat aku, ketika aku kesel yaudah aku kesel sendiri dan terlihat jutek bawaannya tapi seudah itu aku bakal balik kaya biasa. Diemku itu berarti muhasabah mungkin ya, karena pada saat itu otak aku lagi monolog. Selain itu, prinsip tentang masalah dalam hubungan yang sebelomnya aku pegang, "Masalah besar dikecilkan, masalah kecil berusaha ditiadakan".
Ternyata semuanya itu bertentangan!! Aku yang biasa diem terhadap suatu masalah ternyata ga bisa ngejaga diemnya aku secara sendiri. Aku yang biasanya me-"yaudah"-kan sesuatu sekarang udah ga bisa lagi kaya gitu. Aku baru sadar bahwa ini yang dinamain pendewasaan (mungkin). Ya, aku pun masih belajar bahwa ga semua orang punya pemikiran sama kaya aku yang kadang kurang peka terhadap sesuatu bahkan terkesan apatis. Tapi, sebenernya aku peduli, aku tahu, aku bahkan jauh dari tahu. Masalahnya adalah perasaan bingung, malu, kagok, atau mungkin gengsi. Gengsi buat nanya kenapa dan bilang maaf duluan. Ah, pengecut! Tapi, terserah dah aku juga masih belajar untuk jadi manusia yang baik.
Berkali-kali lagi aku bersyukur. Dia yang secara ga langsung ngajarin aku bahwa hubungan tuh ga bisa hanya diwakilin sama satu pemikiran aja. Terkadang aku ngerasa kalo aku yang mendominasi, aku yang jahat, dan terkesan aku yang selalu bener karena dia yang selalu minta maaf duluan. Dia yang sebetulnya terlalu baik, dan bikin aku jadi sedikit bingung. Ternyata hubungan aku yang sebelomnya itu GAK ADA APA-APANYA. Bareng dia yang sebenernya baru jalan 3 bulan lebih, aku ngerasa udah belajar banyak dan ngerasain perasaan yang tulus. Semoga hal ini jadi pelajaran buat aku dan dia.
Well, thanks to "Taken 2" yang udah menggantikan "Perahu Kertas" gara-gara tadi kita telat nyampe bioskop. However, I have to still loving Jakarta, right? Also love my Randy..
Thanks Jakarta..
;)
Thursday, October 18, 2012
Sunday, October 14, 2012
Si Melankolis yang ......
Si melankolis ini sedang menguasai diri dimana sensitivitas mengacau dan merusak. Merasa seakan-akan hanya dirinya yang ingin diperhatikan, karena kesepian mungkin atau karena kekurangannya yang ingin dia elak.
Si melankolis ini sedang meradang dimana dia ingin menyelesaikan semuanya tetapi dia kesulitan menghadapi dirinya sendiri.
Si melankolis ini benar-benar merasa tak diterima karena terkadang orang-orang disekelilingnya sibuk dengan urusannya masing-masing. Sementara, si melankolis sedang mencari cara untuk ditanyai atau dijawab.
Hei melankolis!
Tak semua orang seperti kau yang menginginkan semuanya sempurna.
Tak semua orang dapat merasakan apa yang kau rasakan.
Dan, tak semua orang pula setia ataupun sensitif sepertimu!!!!
Tegarlah, tunjukan sisi koleris atau plagmatismu itu. Jangan menjadi budak melankolis, jangan mau jika hanya dirundung oleh perasaan semata.
Ingat! Apa yang kau pikirkan belum tentu sesuai degan apa yang mereka pikirkan.
Cukup bersyukur dan jalani semuanya saja dengan senyum. Toh dunia kelak akan tersenyum juga padamu. Percaya bahwa dirimu mampu dan bisa untuk melakukan yang terbaik dengan rasional, bukan hanya perasaan semata yang mengacau atau bahkan menghancurkanmu.
Si melankolis ini sedang meradang dimana dia ingin menyelesaikan semuanya tetapi dia kesulitan menghadapi dirinya sendiri.
Si melankolis ini benar-benar merasa tak diterima karena terkadang orang-orang disekelilingnya sibuk dengan urusannya masing-masing. Sementara, si melankolis sedang mencari cara untuk ditanyai atau dijawab.
Hei melankolis!
Tak semua orang seperti kau yang menginginkan semuanya sempurna.
Tak semua orang dapat merasakan apa yang kau rasakan.
Dan, tak semua orang pula setia ataupun sensitif sepertimu!!!!
Tegarlah, tunjukan sisi koleris atau plagmatismu itu. Jangan menjadi budak melankolis, jangan mau jika hanya dirundung oleh perasaan semata.
Ingat! Apa yang kau pikirkan belum tentu sesuai degan apa yang mereka pikirkan.
Cukup bersyukur dan jalani semuanya saja dengan senyum. Toh dunia kelak akan tersenyum juga padamu. Percaya bahwa dirimu mampu dan bisa untuk melakukan yang terbaik dengan rasional, bukan hanya perasaan semata yang mengacau atau bahkan menghancurkanmu.
Subscribe to:
Comments (Atom)