Senja itu telah pudar
Semilir angin menyibak
Kemuning menghilang tertelan ombak
Bayang tersapu
Entah oleh ombak atau angin
Kunikmati senja itu
Kurasakan angin dingin itu
Tanpa sadar,
Kulewati malam cekam gemintang
Kusambut fajar terang mendatang
Dengan sinar yang baru,
Sang surya yang lama...
Thursday, September 13, 2012
Tuesday, September 4, 2012
Dua bulan dan Seutuhnya
Pada
awalnya aku masih merasa ragu untuk menerima dan menjalani semuanya. Itu
terjadi setelah tiga bulan berlalu semenjak perpisahanku dengannya dan aku
pastikan bahwa hatiku ini sudah berpindah, minimal menghapus jejaknya lah. Lalu
kuputuskan pada malam itu untuk menjalani semuanya secara baru, meyakinkan diri
bahwa aku lebih terhormat untuk berpindah dan melanjutkan hidupku seutuhnya. Itu
karena aku tak mau terlalu ber-melankolis dengan masa lalu.
Hari
demi hari hari terus berjalan, entah mengapa aku merasakan suatu perasaan yang
ganjil. Dalam ucapan dan pikiran aku meyakinkan diri ini bahwa aku harus
menjalani semuanya ini dengan penuh kebahagiaan melalui rasa sayangku padanya.
Namun, entah mengapa aku tak sebahagia pada saat bersamanya dulu. Aku sadari
pada saat itu aku belum seutuhnya berpindah. Aku merasa aku sangat bersalah
padanya, pun pada diriku sendiri karena aku membohongi semuanya. Aku berkata
aku sayang padanya tapi hati ini entah mengapa sesak ketika mengingat kenangan-kenangan
terdahulu dan itu terjadi setelah hubungan baru kami itu berjalan selama satu
bulan. Mungkin itu yang dinamakan dengan proses, atau entahlah apa itu namanya
yang pasti aku juga tak tahu apa yang aku rasa dan aku inginkan (maklum
bgaimana pun aku wanita).
Waktu
berlalu, hubungan kami ini semakin dekat. Aku mulai menyadari dan terus
menyadarkan diri ini bahwa dia adalah orang yang benar-benar menyayangiku. Dia
yang selalu berinisiatif untuk mengantarku disaat aku akan pergi kemana,dia
yang selalu perhatian, dia yang tak pernah marah bahkan dia sepertinya takut
sekali membuatku marah, bahkan dia akan berkali-kali berkata maaf ketika aku
sedikit kesal atau bahkan aku hanya bercanda ketika kesal dengannya. Tanpa
sadar, dia pula yang mengajariku menungkapan isi hati secara lisan karena
sebelumnya aku sedikit rishi akan hal itu. Pada saat-saat itulah aku merasa dia
adalah orang yang aku butuhkan sampai dengan saat ini.
Sikap
dan perlakuannya itu membuatku benar-benar sadar bahwa hubungan yang pernah aku
jalani selama tiga tahun lebih itu ternyata tak ada apa-apanya. Aku merasa
bahwa pada saat itu aku hanya membuang-buang waktuku saja dengan aku yang
sepenuhnya tak menjadi diri sendiri dan aku baru menyadari bahwa betapa
bodohnya aku pada saat itu. Ah, tapi yasudahlah itu pun pengalaman pertamaku.
Dengan
dia yang sekarang berada di sampingku aku merasa menjadi diri sendiri. Aku
merasa bebas ketika aku ingin mengungkapkan celetukan-celetukanku yang
terkadang membuatku malu sendiri ketika menyadarinya, atau perasaan kesalku
yang terkadang sangat kekanak-kanakan, dan juga untuk pertama kalinya aku bisa
menangis dengan bebasnya padahal aku tahu bahwa diriku ini memiliki gengsi yang
sangat tinggi untuk menitikan air mata dihadapan orang lain. Entahlah alasannya
apa aku bisa sebebas itu, aku benar-benar merasa menjadi diri sendiri karena
memang pada awalnya aku berkata pula bahwa aku tak suka diatur-atur. Aku akui
rasa nyaman ketika bersamanya itu membuatku bahagia dan terkadang membuat mukaku
merah sendiri oleh tindakan-tindakan bodoh yag terkadang aku lakukan.
Tepat
dua bulan kujalani hubungan ini, aku memutuskan bahwa dialah satu-satunya yang
ada dihatiku saat ini. Kuharap dia bisa memaafkan kesalahanku atas ketidak
jujuranku pada awal hubungan kami meski pada awalnya pula aku berkata bahwa aku
masih ingin meyakinkan diriku sendiri. Aku benar-benar telah menghapus jejak
seseorang yang terdahulu pernah hinggap dihatiku dan melukis hari baru
bersamanya. Seseorang yang namanya selama dua bulan ini hilir mudik di handphone-ku,
dan yang namanya sering aku sebutkan
dalam kisah cinta baruku, Mohammad Randy Pratama. :)
Sukabumi, 5-Sep-12
Subscribe to:
Comments (Atom)